Disrupsi Digital “Blockchain”

Tahun 2018 menjadi saksi bahwa industri sedang bersiap-siap menyambut revolusi industri keempat. Revolusi industri keempat adalah transformasi model bisnis secara mendalam dengan memungkinkan perpaduan dunia nyata dan maya melalui aplikasi dari digitalisasi, otomatisasi, dan robotika dalam manufaktur (Gotz dan Jankowska, 2017). Siap atau tidak, revolusi ini akan mengubah bagaimana industri bekerja sehingga pemahaman akan revolusi industri dan perangkat yang mendukungnya menjadi penting untuk diketahui calon profesional ataupun masyarakat umum.

I. Definisi Blockchain
Masyarakat umum sering kali salah kaprah dalam mengartikan blockchain . Blockchain kerap disamakan dengan bitcoin, ethereum, dan crypto currency. Hal serupa terjadi pada tahun 1980 ketika masyarakat umum mengartikan internet sebagai E-Mail, HTML & HTTP, dan WWW. Minimnya pemahaman akan blockchain dapat menghambat pengaplikasian blockchain sehingga penting untuk dibahas mengenai definisi dari blockchain .

Secara harfiah, terdapat banyak definisi blockchain yang dikemukakan oleh para ahli dan belum ada definisi universal yang secara umum digunakan. Namun, menurut Don & Alex Tapscott (2016) blockchain adalah buku transaksi digital yang tidak dapat disuap yang dapat diprogram untuk merekam transaksi keuangan dan segala sesuatu yang bernilai secara virtual.

Berikut merupakan analogi menurut William Mougayar untuk mempermudah pemahaman akan cara kerja blockchain. Blockchain dapat dianalogikan sebagai google docs. Cara tradisional untuk mengirimkan data microsoft word adalah dengan mengirimkan data tersebut dan menunggu revisi dari orang lain. Permasalahan dari cara ini adalah pengguna harus menunggu dan tidak dapat mengakses data yang hendak perbaiki. Cara ini juga merupakan gambaran dari pertukaran informasi (contoh: transaksi keuangan) saat ini. Industri perbankan menerapkan cara ini saat melakukan transfer uang antar akun ketika secara bersamaan mengunci akses akun lainnya untuk sementara waktu. Google docs memungkinkan dua atau lebih pengguna mengakses dan merevisi data secara bersamaan. Blockchain serupa dengan pembukuan yang multi arah memungkinkan seluruh pihak untuk dapat mengakses kapanpun dan mengetahui perkembangan dari informasi di dalamnya.


Sumber: https://www.blockchain.co.id/

II. Aplikasi Blockchain
Pada subbab sebelumnya, telah dijelaskan mengenai definisi blockchain . Berikut ini merupakan beberapa contoh dari penerapan blockchain yang dipercaya akan mendisrupsi dunia digital:

1. Sharing Economy

Kehadiran sharing economy sangat populer belakangan ini, ditandai dengan munculnya perusahaan seperti GO-JEK, Tokopedia, dan AirBnB. Namun, media sharing economy saat ini sangat bergantung pada kehadiran pihak ketiga. Misalkan user ingin membeli suatu barang dari marketplace di Tokopedia. User akan melakukan pemesanan melalui laman atau aplikasi. Lalu, pesanan user akan diteruskan kepada penjual. Aktivitas ini memosisikan Tokopedia sebagai pihak ketiga. Blockchain hadir sebagai teknologi yang memungkinkan untuk melakukan transaksi secara peer-to-peer . Sebagai contoh, OpenBazaar adalah platform yang memungkinkan pengguna untuk melakukan transaksi jual beli produk tanpa biaya transaksi. Biaya transaksi dapat dihilangkan akibat sistem pembayaran peer-to-peer dimana pengguna-pengguna
OpenBazaar beperan untuk memverifikasi pembayaran.

2. Crowdfunding
Skema permodalan usaha oleh publik atau dikenal dengan istilah crowdfunding cukup marak beberapa tahun belakangan ini, seperti kampanye pengumpulan dana untuk produksi pesawat terbang R80 yang dirancang oleh B.J. Habibie. Kampanye tersebut berhasil mengumpulkan dana ‘ patungan’ sebesar Rp 9.218.923.695 (per 25 Desember 2018 pk 19.51 WIB) melalui Kitabisa.com. Penyumbang yang ikut memodalkan melalui platform crowdfunding akan mendapatkan imbalan berupa saham, uang, produk, atau bentuk timbal balik lainnya. Salah satu terobosan blockchain adalah crowdfunding properti. Kendala dalam permodalan properti adalah timbal balik yang rancu kepada investor. Namun, kehadiran blockchain memungkinkan properti untuk dibagi ke dalam saham digital atau token sehingga investor dapat menanamkan modal sesuai dengan kemampuan finansialnya. Blockchain memungkinkan investor properti untuk menghilangkan pihak ketiga seperti pihak bank, notaris, dan perantara yang membuat transaksi tidak efisien. Salah satu contoh penerapan blockchain dalam crowdfunding properti adalah Atlant.


Sumber: https://trade.atlant.io/

3. Pemerintahan
Penggunaan blockchain memungkinkan pemerintah untuk lebih transparan dalam merumuskan kebijakan, transaksi, dan pemilihan. Kebijakan yang lebih transparan tercapai dengan melibatkan publik dalam mengevaluasi kebijakan atau transaksi yang dikeluarkan pemerintah. Publik dilibatkan melalui imbalan berupa cryptocurrency atas evaluasi yang dilakukan lewat Ethereum ( smart contract platform ). Contoh penerapannya hadir dalam aplikasi Boardroom. Boardroom memungkinkan pengambilan keputusan secara terorganisir dalam blockchain .

III. Blockchain di Indonesia (bahas sedikit bitcoin)
Indonesia disebut sebagai salah satu pasar ekonomi digital terbesar di Asia setelah Tokopedia, GO-JEK, dan Traveloka meraih predikat unicorn startup yakni start-up dengan valuasi lebih dari 1 juta USD. Investor akan terus mencari startup unicorn selanjutnya dan startup blockchain sedang berkembang di tanah air. Indonesia terbilang masih dalam tahap awal pengembangan blockchain jika dibandingkan dengan negara-negara seperti Amerika Serikat, China, Jepang, dan Korea Selatan. Namun, bukan tidak mungkin Indonesia bisa mengimbangi ketertinggalan tersebut seperti yang telah dibuktikan oleh kehadiran startup unicorn asal Indonesia.

Pada tahun 2017, Indonesia dihebohkan dengan Bitcoin. Sebuah mata uang digital yang pada waktu itu mengalami peningkatan nilai yang signifikan. Popularitas tersebut dipengaruhi oleh timbal balik yang begitu menggiurkan sebagai instrumen investasi. Media berperan besar dalam penyebarluasan literasi soal Bitcoin yang fokus pada keuntungan dan cenderung menghiraukan risikonya. Informasi yang disebarluaskan tentu menggiring publik untuk melakukan transaksi jual-beli Bitcoin yang pada saat itu dibawah Bitcoin Indonesia (sekarang Indodax). Padahal, publik cenderung belum memiliki edukasi yang cukup mengenai Bitcoin. Pada akhirnya, sentimen tersebut mereda seiring terbitnya kebijakan-kebijakan pemerintah seperti melarang transaksi menggunakan Bitcoin di Indonesia karena berpotensi untuk mengganggu
keseimbangan pasar.


Sumber: Fortune

Saat ini, Indonesia memiliki beberapa startup yang tidak hanya berkutat dalam pertukaran ( exchange ) cryptocurrency tetapi juga pada implementasi blockchain . Indodax adalah contoh startup dalam bidang penjualan dan pembelian mata uang digital seperti Bitcoin, Ethereum, dan Ripple. Demikian pula dengan Tokenomy dan Luno yang masing-masing menawarkan platform pembayaran dan berbagai mata uang digital sedangkan implementasi blockchain mayoritas hadir dalam bentuk transaksi keuangan yang memungkinkan pengguna membayar dengan mata uang digital. Namun, saat ini transaksi digital masih terkendala oleh kebijakan pemerintah. Selain lembaga usaha, terdapat juga beberapa lembaga pendukung blockchain di Indonesia. Indonesian Blockchain Network memiliki misi untuk mendorong edukasi blockchain di Indonesia, Blockchain Zoo menyediakan layanan konsultasi untuk pengembangan blockchain , dan Blocktech adalah perusahaan yang membantu proyek-proyek blockchain potensial seperti pengembangan supply chain berbasis blockchain .

Akhir kata, blockchain adalah kesempatan yang diberikan bagi mereka yang ingin ambil bagian dalam revolusi industri 4.0. Ia menawarkan produk, gaya hidup, dan sistem baru. Ia mengurangi probabilitas kesalahan manusia ( human error ) yang hadir dalam bentuk rasa percaya ( trust ) satu sama lain. Rasa percaya tersebut digantikan oleh perhitungan matematis dan terkomputerisasi yang mana cenderung kurang rentan atas kesalahan.

Penulis: Christian Sandjaja

Referensi:
Marta Götz & Barbara Jankowska (2017) Clusters and Industry 4.0 – do they fit
together?, European Planning Studies, 25:9, 1633-1653.
https://blockgeeks.com/guides/what-is-blockchain-technology/
https://hackernoon.com/the-ultimate-guide-to-understanding-blockchain-and-cryptocurren
cies-f37cf4c0043
https://openbazaar.org/
https://www.bitdegree.org/tutorials/blockchain-explained/
https://coinsutra.com/blockchain/
https://tirto.id/go-jek-traveloka-tokopedia-mana-lebih-dulu-jadi-unicorn-bvaP
https://id.techinasia.com/startup-blockchain-cryptocurrency-indonesia
https://dailysocial.id/post/kabar-bitcoin-di-indonesia-dan-peluangnya-sebagai-komoditas-investasi