Gejolak Industri Minyak Kelapa Sawit

Lika Liku Industri Minyak Kelapa Sawit Indonesia

Pengantar

      Minyak kelapa sawit merupakan suatu minyak nabati yang merupakan hasil ekstraksi sari buah kelapa sawit. Jenis minyak ini merupakan salah satu jenis minyak yang paling banyak digunakan di dunia karena harga yang murah, cenderung mudah diproduksi, dan sangat stabil. Minyak kelapa sawit umumnya digunakan sebagai bahan makanan. Selain itu, minyak ini juga dapat diproses menjadi berbagai produk turunan seperti bahan kosmetik, produk kebersihan, berbagai variasi makanan, serta sumber energi untuk berbagai kendaraan dalam bentuk biofuel dan biodiesel. Sejumlah besar kelapa sawit umumnya diproduksi di Asia, Afrika, dan Amerika Selatan karena pohon kelapa sawit membutuhkan suhu yang hangat, sinar matahari yang cukup, serta curah hujan yang tinggi. Sekitar 85% minyak kelapa sawit di dunia berasal dari Indonesia dan Malaysia.

Masa hidup pohon sawit berkisar antara 25 sampai 30 tahun. Pohon sawit dapat tumbuh hingga setinggi 9 meter. Setelah penanaman, minyak sawit mulai menghasilkan buah setelah 30 bulan, dan akan matang setelah enam bulan. Pada tahap ini, hasil yang diproduksi (yield) umumnya masih rendah. Yield akan meningkat ke titik terbaiknya pada pertumbuhan 18 tahun. Setelah 18 tahun, yield mulai menurun. Jengkal masa hidup komersil dari minyak sawit adalah sekitar 25 tahun. Rata-rata 3,9 ton minyak kelapa sawit dan 0.5 ton minyak biji sawit dapat diekstraksi dari sehektar lahan.

 

Keuntungan Industri Minyak Kelapa Sawit

Mengingat betapa berlimpahnya sumber daya alam Indonesia, bisnis kelapa sawit menjadi suatu bisnis yang sangat menguntungkan bagi Indonesia. Saat permintaan global kuat, bisnis minyak sawit semakin menguntungkan karena margin laba yang besar, sementara komoditas ini relatif mudah diproduksi. Indonesia juga merupakan salah satu negara dengan biaya produksi minyak sawit mentah paling rendah di dunia. Industri ini diperkirakan masih akan tetap bertahan dikarenakan penggunaan biofuel yang diduga akan tetap meningkat sementara penggunaan bensin diperkirakan akan berkurang. Selain itu, permintaan internasional akan minyak sawit juga kian berkembang seiring naiknya jumlah penduduk global.

Sebagai produsen dan eksportir terbesar minyak kelapa sawit menurut indonesia-investments.com, Indonesia sangat mengandalkan industri perkebunan dan pengolahan sawit sebagai kunci perkembangan perekonomian Indonesia. Ekspor minyak kelapa sawit menjadi penghasil devisa yang signifikan serta penyedia lapangan pekerjaan yang besar bagi masyarakat. Industri ini menyumbang 1,5-2,5 persen terhadap total produk domestik brutto (PDB), dimana industri ini merupakan penyumbang devisa terbesar pada sektor pertanian. Penyumbang PDB terbesar sendiri meliputi industri pengolahan sebesar 20,27%, disusul berturut turut sektor pertanian 13,26%, sektor perdagangan 13,12%, sektor konstruksi 10,49%, dan sektor pertambangan 8,03%.

Pajak ekspor minyak sawit mentah berada di antara 0%-22,5% tergantung pada harga minyak sawit internasional. Apabila harga minyak kelapa sawit acuan pemerintah jatuh dibawah 750 USD per metrik ton, pajak ekspor dipotong menjadi 0%. Dengan kata lain, ekspor minyak sawit dibebaskan biaya pajak. Kebijakan ini diambil untuk mempertahankan pelaku usaha sawit agar dapat tetap bertahan pada masa-masa krisis. Walaupun demikian, penurunan harga sawit harus tetap dicegah. Bebas pajak ekspor berarti pemerintah kehilangan sebagian besar pendapatan pajak ekspor dari industri minyak sawit.

Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi harga minyak sawit merupakan pengaruh hukum permintaan dan persediaan (Law of Supply and Demand) dimana apabila persediaan stok minyak sawit semakin banyak (kurva persediaan bergeser ke kanan) sedangkan permintaan tidak mengimbanginya perubahan tersebut (kurva permintaan tetap atau menurun), maka akan muncul titik kesetimbangan baru dengan harga yang lebih rendah.

Faktor berikutnya juga datang dari hukum ekonomi lainnya yaitu substitution effect dimana perubahan harga produk substitusi dari suatu produk dapat mempengaruhi kurva permintaan produk tersebut. Produk substitusi adalah suatu produk lain yang serupa dan bisa digunakan sebagai pengganti suatu produk tertentu. Pada konteks ini, produk substitusi (pengganti) dari minyak sawit adalah minyak kedelai. Oleh karena itu, perubahan harga pada minyak kedelai juga dapat mempengaruhi kurva permintaan minyak sawit dan mempengaruhi harga dari minyak sawit. Selain itu, harga sawit juga dipengaruhi faktor-faktor lain seperti cuaca, perubahan kebijakan impor dari negara tujuan ekspor Indonesia, serta perubahan kebijakan pajak dan ekspor Indonesia.

 

Dampak negatif Industri Kelapa Minyak Sawit

Kelapa sawit merupakan komoditas ekonomi bernilai tinggi di Indonesia. Bisnis ini juga menjadi sumber lapangan pekerjaan yang besar di Indonesia. Namun, pada skala besar, industri sawit membutuhkan lahan yang luas pula. Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah total luas area perkebunan sawit di Indonesia pada saat ini mencapai sekitar 11.9 juta hektar; hampir tiga kali lipat dari luas area di tahun 2000 waktu sekitar 4 juta hektar lahan di Indonesia dipergunakan untuk perkebunan kelapa sawit. Jumlah ini diduga akan bertambah menjadi 13 juta hektar pada tahun 2020. Kebutuhan lahan yang sangat besar ini kian menjadi sorotan sejumlah pihak, terutama kelompok pecinta lingkungan. Kepala Kampanye Hutan Global Greenpeace Indonesia, Kiki Taufik melalui siaran pers-nya yang diterima Swararakyat pada tanggal 10 Desember 2018 mengingatkan semua pihak mengenai dampak perkebunan sawit bagi lingkungan, manusia, dan iklim. Dampak-dampak tersebut ia paparkan sebagai berikut.

  1. Industri kelapa sawit telah menjadi pendorong utama dihancurkannya setengah populasi orangutan di Borneo dalam kurun waktu 16 tahun.
  2. Lebih dari tiga per empat dari taman nasional Tesso Nilo (Provinsi Riau) yang merupakan rumah bagi harimau, orangutan, dan gajah, telah diubah menjadi perkebunan kelapa sawit illegal. Seccara global, 193 spesies yang dikategorikan terancam kritis, terancam punah dan rentan, disebabkan oleh produksi minyak sawit. Industri kelapa sawit dan pulp merupakan penggerak penggundulan hutan terbesar di Indonesia. Sekitar 24 juta hektar hutan dihancurkan di Indonesia antara tahun 1990 dan 2015, menurut angka resmi yang dikeluarkan pemerintah.
  3. Deforestasi dan perusakan lahan gambut adalah sumber utama emisi gas rumah kaca yang berkontribusi terhadap perubahan iklim. Hal ini telah mendorong Indonesia ke tingkat teratas penghasil emisi global, di samping Amerika Serikat dan Tiongkok.
  4. Deforestasi di kawasan tropis telah menghasilkan lebih bantak emisi gas rumah kaca setiap tahun daripada seluruh Uni Eropa. Pada bulan Oktober 2018, Panel Antar Pemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) menyerukan penghentian segera deforestasi untuk membatasi suhu global yang meningkat menjadi 1.5oc
  5. Pengembangan perkebunan adalah akar penyebab kebakaran hutan dan lahan gambut di Indonesia. Pada bulan Juli 2015, api menyebar di Sumatera, Kalimantan dan Papua. Kebakaran ini menghasilkan kabut asap yang mempengaruhi jutaan orang di seluruh Asia Tenggara. Para peneliti Universitas Harvard dan Columbia memperkirakan bahwa asap dari kebakaran tahun 2015 telah menyebabkan 100.000 kematian prematur. Bank duni menghitung biaya bencana sebesar 16 miliar USD
  6. Perusahaan minyak kelapa sawit berulang kali dituduh mengeksploitasi pekerja, anak-anak dan komunitas lokal. Bulan lalu, Felda Global Ventures dan Indofood, menyusul laporan ekstensif eksploitasi di perkebunan mereka.

Seringkali pemerintah Indonesia dikritik kelompok pecinta lingkungan hidup karena terlalu banyak memberi ruang untuk perkebunan kelapa sawit sehingga berdampak sedemikian rupa terhadap lingkungan. Sejalan dengan semakin banyaknya perusahaan internasional yang mencari minyak sawit ramah lingkungan sesuai kriteria Roundtable on Sustainable Palm Oil . Perkebunan-perkebunan di Indonesia dan pemerintah perlu mengembangkan kebijakan-kebijakan ramah lingkungan. Para pemerintah negara-negara Barat (misalnya Uni Eropa) telah membuat aturan-aturan hukum yang lebih ketat mengenai produk-produk impor yang mengandung minyak sawit, dan karena itu mendorong produksi minyak sawit yang ramah lingkungan.

Pada tahun 2011, Indonesia mendirikan Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) yang bertujuan untuk meningkatkan daya saing global minyak sawit indonesia dan mengaturnya dalam aturan-aturan ramah lingkungan yang lebih ketat. Semua produsen minyak sawit di Indonesia didorong untuk mendapatkan sertifikasi ISPO. Namun, sayangnya ISPO tidak diakui secara Internasional.

 

Gejolak Industri Kelapa Sawit Saat Ini

Menurut keterangan dari Nicholas Whittle, seorang CFO Sawit Sumbermas Sarana, seperti yang dilansir oleh CNBC Indonesia pada awal Januari 2019, industri sawit mengalami tekanan besar pada sisi supply pada bulan November 2018. Ia mengatakan bahwa hasil panen dan produksi minyak sawit menyentuh titik tertinggi pada saat itu. Melimpahnya stok minyak sawit ini menyebabkan harga minyak sawit jatuh ke titik terendah sepanjang tahun 2018. Memang tren harga minyak sawit sepanjang 2018 cenderung menurun.

Selain tekanan besar pada sisi persediaan, terdapat beberapa fenomena juga yang terjadi pada perdagangan internasional. Gapki menjelaskan bahwa Argentina mengambil kebijakan dengan mengurangi pajak ekspor kedelai guna menarik konsumen. Akibatnya, minyak sawit kurang dilirik. Namun, produksi nasional di RI dan Malaysia yang meningkat menyebabkan situasi semakin buruk karena stok yang menumpuk di kedua negara tersebut. Ditambah lagi, India baru-baru saja menaikkan tarif impor mereka. Hal ini sempat menyebabkan tertekannya ekspor Indonesia terhadap India sebesar 34%.

Menurut Bhima Yudhistira Adhinegara, seorang peneliti dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) seperti yang diujarkannya kepada Tirto pada Jumat (2/11/2018), turunnya harga sawit berpengaruh ke pertumbuhan ekonomi terutama di daerah seperti Riau, Kalimantan, dan penghasil sawit lainnya. Ketika harga CPO anjlok, maka pendapatan petani turun. Akibatnya, konsumsi pun menurun. Upaya untuk mengambil pinjaman baru juga tertahan. International Monetary Fund (IMF) memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2018 menurun menjadi sebesar 5,1% akibat menurunnya harga komoditas perkebunan ini. Selain berdampak pada pertumbuhan ekonomi, penurunan harga sawit juga berdampak pada kinerja ekspor dan defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD). Bhima menyebut total ekspor non-migas disumbang dari minyak sawit sebesar 15 persen. Berdasarkan Bank Dunia, sejak Januari-September 2018 harga minyak kelapa sawit mentah turun 16,6 persen.”Ketika itu terjadi, maka efeknya langsung ke pertumbuhan ekspor secara total. Jadi korelasinya cukup erat antara perkembangan harga komoditas sawit dengan naiknya defisit transaksi berjalan,” ujarnya.

Menghadapi tantangan ini, Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Joko Supriyono berharap pemerintah dapat mengeluarkan kebijakan menurunkan pungutan ekspor kelapa sawit dan berbagai produk turunannya untuk dapat menaikkan harga CPO. Sejak 2015, pemerintah menetapkan pungutan ekspor minyak kelapa sawit mentah sebesar 50 dolar AS per ton dan 30 dolar AS untuk produk turunan CPO (crude palm oil). Tertuang dalam Peraturan Pemerintah (PP) nomor 24 tahun 2015 tentang Penghimpunan Dana Perkebunan, serta Peraturan Presiden (Perpres) nomor 61 tahun 2015 tentang Penghimpunan dan Penggunaan Dana Perkebunan Kelapa Sawit. Joko merekomendasikan penurunan 20 dolar AS per ton untuk setiap kategori agar stok segera turun sehingga terjadi sentimen positif pada harganya.

 

Penutup

Turunnya harga sawit memang menghadirkan berbagai tantangan bagi sejumlah pihak, baik pengusaha, petani, maupun negara. Oleh karena itu, perlu ada upaya koordinatif antara sejumlah pihak untuk saling menjaga stabilnya laju produksi dan perdagangan sawit di Indonesia. Setelah melewati titik terendahnya pada bulan November, stok mulai berkurang di bulan Desember dan harga sudah mulai melampaui angka 2000 Myr/metrik ton secara perlahan. Walaupun masih dinilai rendah dibanding tahun lalu, saat ini, pada Januari 2019, harga minyak sawit masih berada di titik stabil. Kedepannya, untuk mencegah terjadinya krisis seperti ini lagi terutama saat laju produksi terlampau tinggi, Indonesia dapat mulai bergerak memperluas pasar ekspor minyak sawitnya.

 

Reference :

https://www.indonesia-investments.com/id/bisnis/komoditas/minyak-sawit/item166?

https://economictimes.indiatimes.com/definition/crude-palm-oil

https://swararakyat.com/inilah-dampak-perkebunan-kelapa-sawit-terhadap-lingkungan-manusia-dan-iklim/

https://tirto.id/turunnya-harga-kelapa-sawit-beri-efek-domino-pada-ekonomi-indonesia-c89v

https://www.cnbcindonesia.com/news/20190109190115-4-49875/who-sentil-industri-sawit-soal-apa