VAR – Menguntungkan atau Merugikan? Kajian Piala Dunia

              Pagelaran akbar 4 tahunan dalam kancah olahraga sepak bola telah mencapai puncaknya pada pertandingan final antara Perancis dan Kroasia. Sejumlah pemain bintang telah menunjukkan tajinya dalam membela negara masing-masing. Namun, satu hal yang tidak kalah dalam mencuri perhatian penonton pada piala dunia kali ini adalah VAR (Video Assistant Referee). Sejumlah keputusan kontroversial di dalam lapangan telah merugikan dan atau menguntungkan masing-masing negara dalam langkahnya menjadi juara. Kajian kali ini berusaha menelisik rekam jejak hingga masa depan dari VAR dalam sepak bola.

Apa itu VAR?

              Video assistant referee atau kerap dipanggil dengan singkatan/ sebutan VAR merupakan suatu sentuhan tambahan berbasis teknologi dalam pergelaran olahraga sepak bola. VAR ini terdiri dari tiga orang yang bekerja sama untuk meninjau kembali keputusan tertentu yang dibuat oleh wasit utama dengan menonton ulang video dari insiden yang terkait. Tiga jenis keputusan yang dapat ditinjau ulang menggunakan VAR adalah: gol (dan kemungkinan pelanggaran yang terjadi menuju gol tersebut), tendangan penalty, dan pemberian kartu merah. Proses untuk meninjau keputusan dapat bekerja dalam dua cara; baik wasit dapat meminta peninjauan setelah membuat keputusan atau tim VAR dapat merekomendasikan kepada wasit untuk meninjau ulang insiden yang terjadi. Dalam situasi terakhir, jika VAR menilai bahwa ada potensi kesalahan yang jelas telah dibuat, dia dapat memberi tahu wasit. Wasit kemudian memiliki tiga pilihan: mereka dapat segera membatalkan panggilan berdasarkan saran VAR, meninjau insiden itu sendiri pada monitor di touchline atau tetap dengan keputusan awal mereka.

Penerapan VAR di Piala Dunia 2018

              Penggunaan VAR menuai banyak dukungan dan hambatan dari fans, pemain, hingga pemangku kepentingan dalam dunia sepak bola. Setelah sempat digunakan pada pertandingan-pertandingan FA Cup, VAR kembali digunakan pada skala lebih besar yakni Piala Dunia 2018. Dalam 48 pertandingan fase penyisihan grup, terhitung terjadinya 335 insiden. Dalam 335 insiden yang terjadi, teknologi VAR digunakan sebanyak 17 kali, 14 ulasan di lapangan yang dibuat oleh para wasit dan tiga ulasan yang dibuat oleh tim VAR tentang keputusan faktual.
Wasit menyebut 95% insiden dengan benar tanpa VAR. Namun, sistem yang diterapkan pertama kalinya pada di turnamen besar yakni Piala Dunia meningkatkan tingkat keberhasilan tersebut menjadi 99,3%.

               Piala Dunia kali ini menghasilkan statistik yang cukup menarik dibandingkan dengan Piala Dunia sebelumnya. Berdasarkan temuan penulis, gol yang tercipta dari bola mati menghiasi hampir separuh gol yang dihasilkan pada fase grup. Hal ini tentu memanjakan langkah tim-tim seperti Rusia dan Inggris yang memiliki torehan gol dari set-pieces (penalti dan tendangan bebas) diatas rata-rata. Selain itu, terjadi peningkatan drastis akan gol pada menit-menit akhir pertandingan. Kedua hal tersebut tentu tidak lepas dari peran VAR yang mengakibatkan terjadinya pelanggaran sensitif dan turut memperlambat tempo pertandingan.

               Jumlah tendangan penalti pada Piala Dunia kali ini juga meningkat cukup signifikan. Jumlah tendangan penalti mencapai 28 buah sampai pada fase 16 besar. Angka tersebut sudah mengalahkan rekor yang bertahan selama 16 tahun. Menariknya lagi, 10 dari 28 buah tendangan penalti adalah hasil dari VAR.

Pro dan Kontra VAR

               Inovasi ataupun revolusi akan selalu mendapat tentangan dari kaum puritan*, tak terkecuali sepak bola. Perubahan dipandang sebagai terhapusnya orisinalitas dan nilai-nilai fundamental. Namun, perubahan harus tetap dilakukan menuju kearah yang lebih baik. Perubahan tersebut hadir dalam teknologi VAR. Dalam penggunaan tahap awal teknologi VAR, banyak perdebatan yang terjadi di kalangan para antusias sepakbola yang terpecah menjadi kelompok pro dan kontra.

               Gol ‘tangan Tuhan’ Diego Maradona adalah salah satu gol paling kontroversial sepanjang sejarah sepak bola. Maradona mencetak gol menggunakan tangan setelah melewati 5 pemain pada pertandingan perempat final melawan Inggris di Piala Dunia 1986. Berkat gol tersebut Argentina mampu melaju ke babak selanjutnya dan memenangkan Piala Dunia. Hasil pertandingan tentu saja dapat berubah apabila gol dari Maradona tidak disahkan oleh wasit. 19 tahun kemudian, Maradona mengakui bahwa golnya kala itu benar menggunakan tangan. Penerapan VAR tentu mampu mencegah hal serupa terjadi dan menghasilkan pertandingan yang lebih adil.

               Setelah meraih juara pada tahun 1986, Argentina kembali melangkah ke babak final untuk kedua kalinya secara berturut-turut. Kali ini Argentina yang dirugikan oleh aksi kecurangan yang bisa dicegah dengan adanya penerapan teknologi berupa video assistant referee atau VAR. Jurgen Klinsmann kala itu salah satu punggawa tim nasional Jerman melakukan aksi diving yang teatrikal sehingga wasit memberi ganjaran berupa kartu merah kepada pemain tim nasional Argentina yang mengakibatkan jalanya pertandingan menjadi berat sebelah dan akhirnya pertandingan tersebut dimenangkan oleh pihak Jerman. Kejadian-kejadian kontroversial ini bisa dihilangkan dengan adanya video assistant referee.

              Dalam setiap penerapan inovasi baru tentulah diperlukan fase adaptasi dimana perubahan yang didatangkan dari inovasi tersebut masih belum sepenuhnya bisa diterima oleh semua orang. Tidak terkecuali Inovasi teknologi VAR, dalam kasus ini pun masih banyak perdebatan apakah ini suatu perubahan yang baik atau buruk untuk olahraga yang paling digemari di muka bumi ini.

                Kasus gol tangan tuhan Diego Maradona dan aksi teatrikal Jurgen Klinsmann adalah contoh mengapa banyak orang yang berpendapat penerapan VAR dibutuhkan dalam sepak bola. Namun, di tahap awal ini tentunya VAR masih jauh dari kata sempurna. Untuk meninjau ulang insiden dengan menggunakan VAR seorang wasit harus memberhentikan jalanya pertandingan untuk beberapa waktu, hal ini sangat mengganggu flow pertandingan dan bisa mengakibatkan salah satu tim yang bertanding kehilangan momentum sehingga hal ini juga bisa mengubah jalannya pertandingan. Selain itu, VAR juga menghilangkan sisi emosional dari sepakbola yang membuat olahraga ini sangat diminati banyak orang. Seperti pada beberapa kasus saat terjadi sebuah gol, pemain-pemain dari tim yang mencetak gol tidak langsung merayakan gol tersebut. Namun, dengan rasa resah dan penuh kebingungan menunggu keputusan wasit yang sedang meninjau ulang gol tersebut menggunakan VAR.

                Akhir kata, apakah VAR mampu mengurangi angka aksi teatrikal pemain dalam menarik simpati wasit? Apakah VAR menawarkan solusi atas keadilan di lapangan hijau? Apakah ia sebuah revolusi untuk sepak bola yang lebih baik atau buruk? Sepertinya, hanya waktu yang mampu memberikan jawaban terbaik.

*Puritan: Seseorang yang menekankan ketaatan mutlak pada aturan atau struktur tradisional, terutama dalam bahasa atau gaya.

Referensi:

http://www.goal.com/en-gb/news/what-is-var-the-video-assistant-referee-systems-world-cup/19m696jq7onm618n3v9oqs02ab

https://www.kompasiana.com/kanopi_febui/5a27f358cf78db6d4671d1f4/fifanomics-sepak-bola-dan-perekonomian-serta-perpolitikan-dunia

https://www.msn.com/id-id/olahraga/piala-dunia-fifa/teknologi-var-di-piala-dunia-2018-begini-awal-mulanya/ar-AAyQlQ6

https://www.liputan6.com/bola/read/2998797/plus-minus-teknologi-var

https://www.bbc.com/sport/football/43100276

http://www.dailymail.co.uk/sport/football/article-5256397/VAR-Man-Match-got-decision-right.html

http://www.goal.com/en/news/what-is-var-the-video-assistant-referee-systems-world-cup/19m696jq7onm618n3v9oqs02ab

http://outsideoftheboot.com/2017/07/09/video-assistant-referee-advantages-disadvantages-and-the-future/

http://www.espn.com/soccer/fifa-world-cup/4/blog/post/3533707/var-at-the-world-cup-a-timeline-of-the-tournament

https://www.thesun.co.uk/world-cup-2018/6662885/var-boring-russia-shots-goals-fouls/

https://readwrite.com/2018/06/22/technology-and-fifa-world-cup-2018-how-will-the-internet-of-things-impact-football/

https://www.thetimes.co.uk/edition/sport/the-group-stage-how-russia-is-outdoing-previous-tournaments-cl6s09jvl

https://www.rte.ie/sport/world-cup-2018/2018/0709/977375-record-number-of-set-piece-goals-scored-at-world-cup/

 

Dibuat oleh:

Christian Sandjaja, Ihsan Dhiya